MINGGU 19 NOVEMBER 2017 Renungan Pagi GB.229 : 1-Berdoa MENDENGAR DAN MENGERTI HUKUM TUHAN. Nehemia 8:1-9 maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air (ay.2) MINGGU PRAPASKAH. PRAPASKAH / SENGSARA Masa ini dirayakan 7 minggu berturut-turut sebelum Paskah *). Prapaskah merupakan masa penyadaran diri dan
Orangyang mengeluh sering tidak menampakkan iman yang mendalam. Orang yang mengeluh cenderung menyalahkan hal-hal yang ada di luar dirinya. Seolah-olah hal-hal yang ada di luar dirinya itu menjadi penyebab utama persoalan yang dihadapinya. Karena itu, kita mesti meningkatkan kemampuan diri kita untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup ini
Yangakan dituliskan adalah renungan untuk setiap peristiwa, yang adalah peristiwa-peristiwa sedih karena selain kita. memasuki minggu sengsara, kiita juga prihatin atas makin. buruknya kondisi bumi ini. Selamat berdoa bagi dunia. Semoga kita dikuatkan juga untuk. ikut menyelamatkannya. salam. al andang l binawan
Disadurdari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2020 Baca: 2 Timotius 2:1-7 "Terakhir memuji Tuhan adalah saat mengikuti ibadah di hari Minggu." Artinya di luar jam-jam ibadah mereka tak pernah memuji Tuhan. "Jagalah dirimu, janganlah berpaling kepada kejahatan, karena itulah sebabnya engkau dicobai oleh sengsara." Ayub 36:21
Tanggal Minggu, 3 Januari 2021. Ayat SH: Matius 4:18-25. Judul: Pengikut Sejati. Menjadi murid bukanlah pilihan yang mudah. Sebab, pada waktu itu, menjadi murid berarti ia harus siap sedia meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti gurunya. Ke mana pun dan di mana pun gurunya berada, di situlah para murid juga berada.
Kolose1:10b. Dalam Alegori tentang pokok anggur yang benar (baca Yohanes 15:1-8) Tuhan Yesus menyatakan bahwa hidup setiap ranting itu sangat bergantung pada pokok anggur. Supaya menghasilkan buah, ranting harus tetap berada dan menyatu dengan pokok anggur karena "Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan
MingguSengsara adalah hari-hari (sekitar seminggu) kehidupan terakhir Yesus Kristus memasuki masa kesengsaraan-Nya menjelang peristiwa penyaliban-Nya sampai mati, yang diikuti dengan penguburan-Nya dan mencapai puncaknya pada waktu kebangkitan-Nya dari kematian.
RenunganHarian Kristen, Saat Teduh, Bahan Khotbah, Kesaksian, Renungan Hidup Rohani, Firman Tuhan & Membership untuk Akses Renungan Online Setiap Hari. 2019 0 "Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi." Yohanes 6:35a Tubuh manusia selalu membutuhkan makanan setiap hari
Padazaman Israel dulu, seseorang biasanya dilantik dengan minyak yang dituangkan di atas kepalanya saat dia dipilih dan diberi kedudukan yang berwenang. (Imamat 8:12; 1 Samuel 16:13) Yesus dilantik oleh Allah sebagai Mesias, suatu kedudukan yang sangat istimewa. (Kisah 2:36) Tapi, Yesus tidak dilantik dengan minyak, dia dilantik Allah dengan
Yesusadalah sumber air hidup dan kesembuhan. Orang sakit itu tak perlu menunggu lagi air kolam berguncang. Dia disembuhkan oleh Yesus. Yang dituntut dari orang sakit itu adalah iman dan sikap iman yang teguh, yaitu jangan berbuat dosa lagi. Kepada Yesus, Sumber Air Hidup inilah kita mesti datang menimba hidup dan rahmat berlimpah.
DaftarIsi. Dia Bri Kemenangan. Renungan Harian Remaja Mazmur 56: 1-14. Dalam kehidupan ini kita tidak akan pernah tahu kapan kita mengalami bahagia atau sengsara. Kita hanya tahu bahwa kita semua mengalami banyak hal yang datang silih berganti. Seperti cuaca yang panas dan ada pula hujan, demikian juga hari, ada malam ada siang, ada gelap ada
Minggu 17 April 2011. Hari Minggu Palma. Mengenangkan Sengsara Tuhan. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Flp 2:5) Antifon Pembuka. Terpujilah Putra Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Terpujilah Yang Mahatinggi! (Mat 21:9)
HAMBAYANG SELALU SIAP SEDIA (1) Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Desember 2017. Baca: Lukas 12:35-40. "Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya." Lukas 12:36.
HariMinggu ini harus menjadi Pesta Kerahiman." Permintaan ini disampaikan oleh Yesus kepada St. Faustina dari Polandia pada penampakan-Nya tanggal 22 Februari 1931. Permintaan Yesus ini baru terwujud pada tahun 2000, ketika Bapa Suci Yohanes Paulus II menetapkan Hari Minggu setelah Minggu Paskah sebagai Minggu Kerahiman Ilahi.
HariMinggu Palma: Mengenang Sengsara Tuhan . Bac I: Yes 50: 4-7. Bac II : Flp 2: 6-11. Injil: Mat 26: 14-27:66. Hari Minggu Palma . Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pada hari ini Gereja Katolik seluruh dunia menyebutnya sebagai Minggu Palma. Minggu di mana Gereja kita mengenang sengsara Tuhan kita Yesus Kristus yang berujung pada peristiwa
rN3i. Bacaan Yes. 504-7; Flp. 26-11; Mat. 26-27;66 atau 2711-54 Perarakan Mat. 211-11 Perayaan Pekan Suci dan khususnya Hari Minggu Palem tahun ini tentu berbeda atau lain dari biasanya. Kita sedang dalam ancaman Covid-19 atau Corona virus yang sedang melanda dunia, juga sedang mengancam setiap kita di sudut dunia manapun. Berbagai upaya Pemerintah dalam penanganan wabah ini, dan kita pun diminta untuk ikut terlibat dengan penuh kesadaran mengatasi dan bahkan memutuskan mata rantai penyebaran virus ini dengan melakukan tindakan nyata seperti, mengisolasi diri, menjauhkan diri dari kerumunan, untuk tidak ke mana-mana dan tinggal di rumah, disiplin diri jaga kesehatan dan kebersihan, mencuci tangan, mengambil jarak dengan orang yang ada di sekitar kita, meningkatkan daya tahan tubuh melalui makanan yang bergizi, dlsbgnya. Dan karena itu, demi keselamatan dan kesehatan banyak orang, tidak ada ibadah bersama, seperti misa, dll yang memungkinkan banyak orang berkumpul supaya dihindari. Umat dapat mengikuti perayaan ekarisiti secara live streeming melalui TV atah HP. Dengan penuh iman kita terus berdoa dan berpasrah kepada Tuhan agar wabah ini segera berlalu. Merayakan Hari Raya Minggu Palem kali ini tidak dengan sebuah pawai sambil bersorak hossana menyambut Yesus Sang Raja masuk kota Yeruslem, yang ditandai dengan pawai di luar atau di dalam Gereja. Tetapi, dalam keheningan dan kesunyian hati yang mendalam kita menyambut Yesus masuk Yerusalem rumah dan keluarga kita, dalam setiap hati yang penuh kerinduan dan penuh harapan ketika sedang dalam kecemasan di tengah mewabahnya virus corona yang membahayakan hidup setiap orang. Kali ini, tidak dengan daun palem di tangan sambil bersorak gembira akan datangnya Yesus Putera Daud. Kita tetap menyambut Yesus dengan iman yang teguh, Sang Raja yang selalu siap menderita bersama kita. Dia selalu menderita dan mengambil penderitaan kita agar kita diselamatkan. Memang kita sering menjadi ragu akan karya besar Allah yang selalu mengasihi kita, juga ketika kita sedang dilanda wabah corona virus ini. Wabah virus corona ini tidak pandang bulu, tidak pandang suku, bangsa, agama, kaya atau miskin. Maka peristiwa ini harusnya membuat kita sadar bahwa betapa berharganya hidup ini. Tidak hanya dengan daun palma di tangan, tetapi dengan hati yang penuh damai, hati yang penuh kasih, persaudaraan dan pengampunan, kita membiarkan diri kita, hidup kita, keluarga kita dipakai oleh Allah untuk kebaikan dan keselamatan banyak orang, juga menjaga diri kita dari wabah yang melanda dunia ini. Yesus selalu memerlukan kita agar kita mengalami keselamatan. Ia Raja yang rendah hati. Kebesarannya terletak pada cinta dan pengabdian. Ia tetap dan selalu mencintai kita, juga dalam situasi yang sedang kita hadapi saat ini, karena itu Ia masuk ke Yerusalem hati, hidup rumah dan keluarga kita saat ini. Ia juga mau mengalami apa yang sedang kita hadapi dan alami saat ini, bahkan melalui penderitaan, salib dan kematian-Nya kita pun diselamatkan. Ia adalah hamba yang menderita. Bacaan-bacaan yang kita renungkan menggambar betapa Yesus yang tak bersalah itu, dijatuhi hukuman yang tidak adil. Ia menanggungnya demi keselamatan, kebahagiaan dan tebusan bagi kita orang-orang yang berdosa. Hamba yang menderita tidak memperhitungkan keselamatan diri-Nya. Ia tidak dengan terpaksa, tetapi dengan sebuah kesadaran akan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa, agar kita manusia yang berdosa ditebus, diselamatkan. Segala penderitaan kita diangkat-Nya. Kepasrahan kepada Allah dan cinta kepada manusia memberanikan Yesus untuk menghadapi jalan yang terpahit sekalipun; sebab Dia meyakini kepastian bahwa tugas perutusan-Nya tidak akan sia-sia. Pesan yang mau disampaikan adalah bahwa hidup di jaman sekarang ini mungkin sulit sekali menghargai sebuah pelayanan. Yesus sang pelayan, hamba yang setia daan menderita demi pelaksanaan pelayanan-Nya. Dan kita sebagaimana yang diharapkan oleh Rasul Paulus agar punya kerelaan dan leberanian untuk melayani Allah dan sesama. Kisah sengsara di hari minggu awal pekan suci ini mengajak kita untuk menyadari bahwa Yesus memerlukan teman berjaga. Berjaga dalam doa, agar kita tidak jatuh dalam dosa. Yesus membutuhkan orang yang diajak kerjasama, membantu dalam berbagai tantangan dan kesulitan seperti saat ini, agar semua orang diselamatkan. Kita tidak bersikap acuh dan masa bodoh, tetapi punya kepedulian atas kehidupan, kesehatan dan keselamatan orang lain. Semoga kita pun berani menyerahkan diri bersama Yesus dalam kesepian dan mau setia kepada kehendak Bapa-Nya. Sebagaimana Yesus, Ia menyatakan kesetiaan-Nya yang tuntas pada salib. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa badai virus corona telah membuka kelemahan kita. Dia membuka kebiasaan dan kelemahan kita. Badai membuka hati kita untuk menyeimbangkan hidup kita dengan hati kita. Dengan badai, terungkaplah tipuan-tipuan kita yang ditutupi dengan egoisme kita. Dalam masa PraPaskah ini, kita diingatkan untuk kembali dan percaya kepada Tuhan, Kini adalah saat melihat dan memperhatikan satu sama lain. Kita mengundang Yesus ke dalam perahu hidup kita karena Dia-lah yang memenangkan semuanya. Karena Tuhan membuat semuanya menjadi baik. Karena di dalam Tuhan, semua hidup. Tuhan menguatkan iman kita menuju iman Paskah. Kita tahu, melalui salib-Nya kita diselamatkan. Kita memiliki harapan bahwa melalui salib-Nya, kita dirangkul agar kita semua dirangkul oleh kemaharahiman-Nya. Salib bukan karena kesalahan-Nya, tetapi Salib adalah sebuah perjuangan menegakkan Kerajaan Allah. Salib adalah jalan keselamatan, jalan mengenal misteri kasih Allah yang tak pernah berhenti walaupun ada hambatan, tantangan, kesulitan. Salib dan jalan salib adalah jalan keselamatan bagi Yesus, bagi para murid-Nya, bagi kita. Semoga dalam keheningan ketika saat ini kita berdiam diri di rumah, dan dengan diri kita sendiri, kita terus menyerahkan diri dalam kepercayaan karena jalan itulah yang dicontohkan oleh Yesus kepada semua yang hendak mengikuti-Nya. Yang bertahan sampai akhir akan mendapat mahkota abadi. Tuhan memberkati ***** Ditulis oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI
Saat jemari mengetik huruf demi huruf untuk postingan kali ini, hujan lebat masih mengguyur Jayapura dan sekitarnya. Guntur membahana di langit dan kilat memecah kegelapan malam. Bunyi sirene Ambulance masih terus terdengar bolak balik menyusuri kota. Rasanya berat untuk menulis sesuatu tentang ini. Melihat di Media saja sudah membuat hati teriris apalagi melihat secara langsung. Mendengar cerita saja sudah membuat hati berkecamuk apalagi yang mengalami dan menjadi korban. Kehilangan harta. Kehilangan nyawa. Kehilangan keindahan alam. Semuanya luluh lantak. Semua yang pernah mengalami bencana pasti sangat paham ketika hal yang sama dialami oleh orang lain. Bencana. Tak pernah disangka. Sama sekali tidak dikehendaki. Membuat hati tersentak. Meninggalkan trauma dan duka yang mendalam. Bencana bertubi – tubi. Duka silih berganti. Belum selesai menarik nafas lega ketika yang satu terselesaikan. Yang lain sudah menghantam. Mengapa? Salah siapa? Berbagai pertanyaan yang jawabannya selalu dibahas panjang lebar termasuk untuk bumi Papua, Sentani, Nduga, dll. Berbagai komentar dan teori bermunculan. Berbagai nasihat dan peringatan diulang. Tapi tak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Semua harus dihadapi. Salib di minggu sengsara tak hanya sekedar perenungan panjang tanpa titik. Tak cukup menjadi perenungan untuk akal saja atau untuk rasa tapi juga untuk hati nurani,untuk hidup, untuk perbuatan, untuk kebijakan, untuk keberpihakan, untuk kemanusiaan, untuk masa depan. Setiap musibah ada hikmahnya. Setiap peristiwa dapat menjadi sarana agar pekerjaan – pekerjaan Allah dinyatakan. Seperti yang dialami oleh si buta sejak lahirnya dalam Yohanes 91-41. Ketika para murid bertanya tentang penyebab penyakit si buta apakah karena dosanya atau dosa orang tuanya? Yesus meminta murid-murid-Nya meninggalkan spekulasi sia-sia menuju tindakan. Yesus bertindak bukan sekedar merasa iba, bukan mencari kambing hitam tapi melakukan tindakan penyelamatan. Tindakan yang menyatakan kuasa, kasih dan kemuliaanNya. Yesus tidak sekedar berbicara saja tetapi benar – benar bertindak. Ia mengaduk ludahNya dengan tanah dan mengoleskannya pada si buta. Yesus mengingatkan bahwa saat untuk bekerja terlalu singkat, selama masih siang. Yesus menghubungkan para murid dengan diri-Nya sendiri. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan diri-Nya dan juga pekerjaan mereka. Kolam Siloam menjadi tempat si buta membasuh dirinya lalu matanya melek. Siloam artinya diutus. Siloam menjadi simbol yang menegaskan pengutusan kita ditengah berbagai peristiwa yang terjadi. Sebagaimana Yesus diutus maka kitapun diutus. Di posisi mana mata kita melihat. Mata orang yang buta yang akhirnya bisa melihat dan mengenal Yesus Kristus setelah dia sembuh. Atau mata para murid yang hanya bisa membicarakan dan mendiskusikan keadaan orang itu tanpa berusaha menolongnya. Atau mata para pemimpin agama yang sudah melihat mujizat itu tetapi mereka tidak bisa melihat Tuhan di dalam kebutaan dan kemunafikan mereka. Atau mata Yesus yang bertindak menjawab kebutuhan si buta. Di posisi mana mata kita melihat menjadi cermin sikap kita merespons pengutusan Tuhan. Bencana, penderitaan, kesengsaraan, kehilangan, merupakan kesempatan untuk mengalami pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Itulah jalan salib yang ditempuh Yesus. Salib itu memang berat tapi Yesus memilih jalan Salib untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Sebuah syair lagu dari Ebiet Untuk Kita Renungkan …… *Kita mesti tabah menjalani Hanya cambuk kecil agar kita sadar Adalah Dia di atas segalanya* Terima kasih untuk semua yang meresponi peristiwa bencana ini untuk menyatakan pekerjaan – pekerjaan Allah. Yang bekerja di posko – posko bencana dan tempat pengungsian, yang terlibat langsung untuk berbagai proses baik di tempat bencana, di rumah sakit, yang menopang dengan memberi berbagai bantuan bahkan yang mendoakan. Salib ini memang sangat berat. Salib … untuk menunjukan bahwa Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Tuhan memberkati.
Tema kita hari ini Ia harus dihukum mati. Siapa yang harus dihukum mati? Kita semua tahu, Dialah Yesus Tuhan kita. Ia harus dihukum mati. Ini keputusan sebuah pengadilan Mahkamah Agama Sanhedrin. Di Israel masa itu, Mahkamah Agama adalah dewan tertinggi di Yerusalem untuk urusan agama dan segala hal yang berhubungan dengan orang Yahudi. Mahkamah Agama berjumlah 70 orang dan dipimpin seorang Imam Besar serta beranggotakan Imam – imam kepala dan tua – tua bangsa Yahudi. Proses pengadilan dan keputusan waktu itu disetujui juga oleh Penguasa Romawi. Pada suatu waktu dalam sejarah dunia tercatat pengadilan terhadap Yesus menghasilkan keputusan Ia harus dihukum mati. Keputusan ini adalah sebuah proses yang dimulai dari kebencian yang merasuk hati dan tipu muslihat yang menguasai otak. Persekongkolan untuk menangkap dan membunuh Yesus sudah dibahas sebelumnya di Istana Imam Besar Kayafas ini Matius 261-5. Rencana sukses dijalankan dan orang – orang yang bersekongkol menanti hasil tipu muslihat itu. Para Ahli Taurat dan tua – tua telah berkumpul di Istana Imam Besar Kayafas. Di Istana Imam Besar yang seharusnya menjadi tempat keadilan dan kebenaran dinyatakan, tempat perlindungan bagi orang-orang yang lemah dan tertindas ternyata telah berubah menjadi singgasana kelaliman. Yesus yang telah ditangkap di bawah ke situ. Imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus. Mereka bahkan menyiapkan banyak saksi dusta. Mereka memfitnah Yesus. Mereka memutarbalikan ajaran dan perkataan Yesus. Tapi Yesus tidak membuka mulut untuk menjawab atau membantah atau membela diri dari setiap dakwaan yang dituduhkan kepada-Nya. Yesus diam bukan karena Ia tak berdaya. Tapi karena Ia mengasihi kita. Yesus memilih taat dan setia pada misi BapaNya. Ketika Yesus menjawab dengan menyatakan siapa diriNya, bahwa Anak manusia akan duduk disebelah kanan Bapa yang Maha Kuasa, maka Kayafas mengoyakkan pakaiannya. Kayafas menyimpulkan Yesus menghujat Allah lalu seluruh Mahkamah Agama menjatuhkan keputusan itu Ia harus dihukum mati. Petrus yang sudah malarikan diri, ikut serta dari jauh lalu masuk dan duduk diantara para pengawal. Petrus mendengar dan mengikuti proses pengadilan dan pengambilan keputusan. Keputusan itu lalu mengesahkan apapun yang dilakukan orang terhadap Yesus. MukaNya diludahi dan ditinju. Ia dipukul dan orang banyak mengolok – olok Dia. Tapi Yesus rela meminum cawan derita, menanggung sengsara, menerima hinaan dan fitnahan, memikul Salib menempuh Via Dolorosa. Walaupun melalui keputusan pengadilan yang tidak adil tapi Yesus menerima segala bentuk ketidakadilan itu. Yesus rela mati, supaya genaplah kehendak Allah agar saya dan saudara yang berdosa beroleh selamat. Yesus sudah menanggung sengsara dan derita. Yesus sudah mati bagi kita. Kita sekalian sudah ditebus oleh darahNya yang tercurah di Golgota. Dan kita sedang menikmati anugerah keselamatanNya. Pada minggu sengsara yang ke 5 ini, mari kita merenungkan pesan Firman Tuhan bagi kita Yesus mati supaya kita yang berdosa dibenarkan sehingga kitapun dapat melakukan misi Allah untuk menyatakan kasih, keadilan, kebenaran dan untuk melakukan kehendakNya dalam hidup kita. Mari merenung dalam rasa malu dan tak layak atas apa yang Yesus alami. Mari mengoreksi hidup agar tak lagi dibungkus kemunafikan dan kepalsuan. Saudaraku, dunia saat ini sedang diguncang oleh Pandemi Global Virus Corona. Ada diantara kita yang selalu mengikuti perkembangan berita tentang Virus Corona dari berbagai media. Hari ini, sudah lebih dari kasus di dunia, lebih dari orang yang mati. Di Indonesia sebanyak 405 orang telah terinfeksi dan 38 orang meninggal dunia. Apa yang kita renungkan bertepatan dengan minggu sengsara ke-5 ini ? Sesungguhnya Tuhan mengajar kita melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam dunia ini. Tuhan menegor kita melalui Kisah Pengadilan Mahkamah Agama dalam kisah hari ini. Janganlah seperti Mahkamah Agama yang menghalalkan kejahatan. Janganlah seperti Petrus yang mengikuti pantau dari jauh lalu mencari jalan aman bahkan tak sungkan menyangkalNya saat terjepit. Tuhan juga mengajar kita melalui Pandemi Virus Corona. Betapa tidak, virus corona telah menjungkirbalikan semua kesombongan manusia. Yerusalem menjadi sunyi, Vatikan sepi, tempat – tempat ritual agama menjadi kosong. Event olahraga dibatalkan, ekonomi negara adidaya terancam ambruk. Corona memberi pesan bahwa kehidupan kita sangatlah rapuh. Jika selama ini kepala kita terangkat dengan gagah karena kita memiliki semua yang kita inginkan, maka sekarang mesti harus menunduk malu bahkan mengoyakkan pakaian tapi bukan seperti Kayafas yang mengoyakkan pakaian dengan kemunafikan. Kita mesti mengoyakkan pakaian segala dosa kita. Allah mau kita berbalik dari segala kesombongan, keegoisan, kemunafikan untuk kembali padaNya. Berhentilah bermain – main dengan ambisi untuk menguntungkan diri sendiri, untuk memperkaya diri, untuk menghalalkan segala cara tapi mengorbankan sesama dan menghancurkan alam ciptaanNya. Berhentilah menikmati keserakahan yang membuat kita lupa diri dan lupa Tuhan. Berhentilah mempertontonkan kehebatan ibadahmu tanpa solidaritas terhadap sesama. Berhentilah menggemakan nama Tuhanmu jika hanya dalam kemunafikan. Bencana ini menjadi sebuah cambuk agar kita sadar, ada Tuhan di atas segalanya. Betapa rapuhnya kita manusia. Tanpa nafas hidup anugerahNya maka kita hanya seonggok tanah. Tanpa hikmat pemberianNya maka peradaban akan mati. Ia Tuhan yang berkuasa atas alam semesta dan seisi dunia ini. Di tengah keganasan dan kegelisahan Corona, Ia Tuhan yang sudah menderita dan mati untuk kita. Apakah kita mesti menanti ancaman corona barulah kita sadar? Tidak cukupkah sengsaraNya menampar kita? Atau kematianNya menyentuh hati kita? Jadi ingatlah penciptamu, percayalah pada Juruselamatmu, bersandarlah pada penolongmu. Carilah Tuhan pada keheningan yang bermakna bukan keramaian yang semu. Temukanlah Tuhan pada via dolorosa kehidupan kita bukan hanya terbatas pada ritus – ritus agama. Berteduhlah dalam hening untuk merenung sengsara sang Mesias. Bertekunlah dalam doa agar semua pihak beroleh kekuatan dari Tuhan di dalam badai ini. Bersehatilah sebagai saudara seiman untuk saling menguatkan melewati bencana ini, entahkah saudara masih bisa bersalaman atau tidak? Entah saudara beribadah di gereja atau di rumah atau bahkan di kolong – kolong jembatan. Pelihara imanmu, syukuri hidupmu, jaga kesehatanmu, rawatlah alam disekelilingmu, berjuanglah bersama para pejuang kemanusiaan untuk memberi penghiburan dan harapan dari Tuhan dalam masa – masa sulit seperti ini. Itu Misi Allah yang mesti kita lanjutkan. Melakukan misi Allah meski dalam diam jauh lebih berarti daripada terlibat dalam kegaduhan adu argumentasi, adu ayat Kitab Suci, adu pembelaan diri, adu teori dan lain sebagainya. Allah menghendaki kita menempuh via dolorosa hidup kita sekarang dalam perenungan yang dalam, dalam keheningan yang sunyi, dalam penyesalan yang sungguh dan dalam ketaatan penuh pada Bapa yang memelihara kita di badai topan dunia ini termasuk di badai topan corona. Pada Minggu Sengsara V ini kita tetap dapat bersukacita dan bersyukur. Minggu sengsara yang ke – 5 dalam Kalender Gerejawi disebut Minggu Laetare. Laetare artinya “bersukacitalah”. Kita bersyukur karena Allah memegang tangan kita melewati badai ini. PenyertaanNya sempurna, janjiNya meneguhkan iman kita sehingga mulut serta hati kita tetap memuji Dia “Biar badai menyerang, biar ombak menerjang, aku akan bersyukur kepada Tuhanku” Kidung Jemaat 4502. Selamat Hari Minggu. Selamat melanjutkan perenungan pada Minggu – minggu sengsara. Tuhan memberkati.
Wahyu 61-8 Apakah Empat Penunggang Kuda dalam kitab Wahyu sudah datang? Lalu aku melihat Anak Domba itu membuka salah satu dari ketujuh meterai itu, dan kudengar salah satu dari keempat makhluk itu berkata dengan suara yang menggelegar, "Mari!" Jadi aku menengadah dan melihat seekor kuda putih, dan penunggangnya memegang sebuah busur panah. Dan dia diberikan mahkota, dan dia pergi untuk mengalahkan dan menaklukkan. Dan saat Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, kudengar makhluk yang kedua itu berkata, "Mari!" Kemudian kuda lain keluar. Warnanya merah terang, dan penunggangnya diberi kuasa untuk menyingkirkan kedamaian dari bumi dan membuat manusia saling membunuh. Dan dia diberikan sebilah pedang yang besar. Dan saat Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, kudengar makhluk yang ketiga itu berkata, "Mari!" Kemudian aku menengadah dan melihat seekor kuda hitam, dan penunggangnya memegang sebuah timbangan di tangannya. Dan kudengar suara yang kedengarannya seperti suara yang berasal antara keempat makhluk itu, berkata, "Satu liter gandum seharga satu dinar, dan tiga liter jelai seharga satu dinar, dan jangan merusakkan minyak dan anggur itu". Dan saat Dia membuka meterai yang keempat, kudengar suara makhluk yang keempat itu berkata, Mari dan lihatlah. Dan aku menengadah, dan melihat seekor kuda pucat dan nama yang menungganginya adalah Maut, dan Neraka mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi, untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan binatang-binatang buas di bumi. Wahyu 61-8
renungan air hidup minggu sengsara